News Update :

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Software Free

Tutorial Blogger

Tutorial Blackberry

Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan

Bahaya Zina

Diposting oleh : Posted on Kamis, 26 September 2013 - 12:46 AM with No comments

http://yustisi.com/wp-content/woo_custom/4046-zinah.jpg 'dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.' (QS. Al-Isra : 32)
Untuk lebih memahami silahkan baca-baca hadis-hadis tentang zinah di SINI
perbuatan zina dan pezina termasuk perbuatan terkutuk, dalam satu hadist dikatakan :

'hindari perbuatan zina, karna di dalamnya terdapat 4 hal yang hina :

1. Menghilangkan Cahaya pada wajah
2. Mengurangi rezeki
3. Dimurkai Allah SWT
4. Pelakunya dijanjikan neraka
(HR. Al-Baihaqi)

Semoga ALLAH senantiasa menjauhkan kita dari perbuatan zina dan mendapatkan pasangan yang halal yang diridhoi Allah swt. aamiin..

(Cantumkan jika ada doa khusus agar kami para jamaah bisa mengaminkannya)

Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.

Ya ALLAH...
✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang
membaca dan membagikan status ini.

Aamiin ya Rabbal'alamin.

Suara yang Didengar Mayat

Diposting oleh : Posted on Sabtu, 21 September 2013 - 5:36 AM with No comments


Yang akan ikut mayat adalah tiga hal Yaitu :
1. Keluarga,
2. Hartanya, dan
3. Amalnya.

Ada dua yang kembali dan satu akan tinggal bersamanya yaitu :
1. Keluarga dan hartanya akan kembali,
2. Sementara amalnya akan tinggal bersamanya.

Maka ketika roh meninggalkan jasad...
Terdengarlah suara dari langit memekik, "wahai fulan anak si fulan,

✔ Apakah kau yang telah meninggalkan dunia, atau Dunia yang meninggalkanmu.
✔ Apakah kau yang telah mengumpul harta kekayaan, atau kekayaan yang telah mengumpul mu.
✔ Apakah kau yang telah menumpuk dunia, atau dunia yang telah menumpukmu
✔ Apakah kau yang telah mengubur dunia, atau dunia yang telah menguburmu."

Ketika mayat tergeletak akan dimandikan...

terdengar dari langit suara memekik, "wahai fulan anak si fulan...

✔ Mana badan mu yang dulunya kuat, mengapa kini terkulai lemah.
✔ Mana lisan mu yang dahulunya fasih, mengapa kini bungkam tak bersuara.
✔ Mana telinga mu yang dahulunya mendengar, mengapa kini tuli dari seribu bahasa.
✔ Mana sahabat-sahabatmu yang dahulunya setia, mengapa kini Raib tak bersuara."

Ketika mayat siap di kafan...
suara dari langit terdengar memekik, "wahai fulan anak si fulan...

✔ Berbahagialah apabila kau bersahabat dengan ridho
✔ Celakalah apabila kau bersahabat dengan murka ALLAH
✔ Kini kau tengah berada dalam sebuah perjalanan nun jauh tanpa bekal
✔ Kau telah keluar dari rumah mu dan tidak akan kembali selamanya
✔ Kini kau tengah safar pada sebuah tujuan yang penuh pertanyaan."

Ketika mayat di usung...
terdengar dari langit "wahai fulan anak si fulan...

✔ Berbahagialah apabila amal mu adalah kebajikan
✔ Berbahagialah apabila mati mu di awali taubat
✔ Berbahagialah apabila hidup mu penuh dengan taat."

Ketika mayat siap di sembahyangkan..

Terdengar dari langit suara memekik, "wahai fulan anak si fulan...

✔ Setiap pekerjaan yang kau lakukan kelak kau lihat hasilnya di akhirat.
✔ Apabila baik maka kau akan melihatnya baik.
✔ Apabila buruk, kau akan melihatnya buruk."

Ketika mayat di baringkan di liang lahat, ...
terdengar suara memekik dari langit... "wahai fulan anak si fulan...Apa yang telah kau siapkan dari rumah mu yang luas di dunia untuk kehidupan yang penuh gelap gulita disini.

Wahai fulan anak si fulan...

✔ Dahulu kau tertawa kini dalam perut ku kau menangis.
✔ Dahulu kau bergembira, kini dalam perut ku kau berduka.
✔ Dahulu kau bertutur kata, kini dalam perut ku kau bungkam seribu bahasa."

Ketika manusia meninggalkan sendirian...
ALLAH berkata kepadanya... "wahai Hamba-Ku...

✔ Kini kau tinggal seorang diri.
✔ Tiada teman dan tiada kerabat.
✔ Di sebuah tempat kecil, sempit dan gelap.
✔ Mereka pergi meninggalkan mu seorang diri.
✔ Padahal, karena mereka kau pernah langgar perintah-Ku.

Hari ini...
Akan Ku tunjukkan kepada mu

✔ Kasih sayang Ku
✔ Yang akan takjub seisi alam.
✔ Aku akan menyanyangi mu lebih dari kasih sayang seorang ibu pada anaknya."

Kepada jiwa-jiwa yang tenang ALLAH berfirman;
"Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Rabb mu. Dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah Hamba-hamba-Ku.Dan masuklah ke dalam Jannah-KU."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah haditsnya yang lain. Beliau bersabda; "Wakafa bi al mauti wa'idha."
artinya; "Cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagi mu !"

Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat yang bernilai ibadah.

Ya ALLAH...
✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan status ini.

Aamiin ya Rabbal'alamin..

Ternyata Surat Al-Ikhlas Bisa Menyelamatkan Diri dari Api Neraka dan Menempatkan Kedalam Surga

Diposting oleh : Posted on Rabu, 18 September 2013 - 6:16 AM with 1 comment

Ada satu cerita, seorang lelaki meninggal. Beberapa hari kemudin, ayahnya bermimpi di suatu malam bahwa lelaki tadi berada dalam neraka dan sedang dalam siksaan neraka. Di malam berikutnya ayahnya bermimpi lagi, bahwa lelaki tadi sudah berada dalam surga. Ayahnya heran dan kemudian bertanya,

Ayah :
nak,, malam sebelumnya aku melihatmu dalam neraka dan sedang dalam siksaan, tapi kenapa kamu sekarang bisa berada di surga. Apa yg menyebabkanmu masuk surga ?

Anak :
yah, kemarin ada seorang lelaki melewati quburan kami ( quburan kaum muslimin ), lalu dia membaca surat al -ikhlas sebanyak 3 x. Lalu dia berikan pahala membaca surat al-ikhlas tadi kepada kami. Lalu di bagikan ( oleh allah )kepada kami ( ahli - ahli qubur ). Maka inilah bagian ku, hingga aku bisa keluar dari neraka dan masuk surga.

Sahabat, begitu besar pahala membaca surat al-ikhlas.

Nabi SAW juga bersabda mengenai pahala membaca surat al-ikhlas yang artinya :
  • Barang siapa yg membaca surat al-ikhlas sebanyak satu kali, maka pahalanya seperti membaca sepertiga al-qur'an.
  • Dan barangsiapa yg membaca surat al-ikhlas sebanyak dua kali, maka pahalanya seperti membaca dua pertiga al-qur'an.
  • Dan barang siapa yg membaca surat al-ikhlas sebanyak tiga kali, maka pahalanya seperti membaca seluruh al-qur'an.
  • Dan barang siapa yg membaca surat al-ikhlas sebanyak sepuluh kali, maka allah swt. Akan membangun rumah untuknya di surga dari inten yaqut merah.
Dalam Hadis lain nabi juga menyebutkan pahala membaca surat al-ikhlas :

Barang siapa yg membaca surat al-ikhlas dalam sholat fardu, maka allah swt akan mencatat 3 keuntungan:
  1. Mengampuni dosa kedua orangtuanya 
  2. Menghapus nama yg membacanya dari daftar buku org2 yg celaka 
  3. Mencatat yg membacanya dalam daftar buku org2 yg bahagia.
Sahabat, alangkah besarnya pahala membaca surat al-ikhlas, tidak kah kalian merasa mau dengan pahala membaca surat al-ikhlas. Cuma sebentar kok. Semoga kita mau membacanya dan mendapat pahala nya. Aamiin.

Sampaikanlah kepada orang lain, maka ini akan menjadi Shadaqah Jariyah pada setiap orang yang
Anda kirimkan pesan ini. Dan apabila kemudian dia mengamalkannya, maka kamu juga akan ikut mendapat pahalanya sampai hari kiamat...

Ada 2 pilihan untuk Anda:

1. Biarkan di dalam BBM, catatan atau pikiran Anda tanpa bermanfaat untuk orang lain.

2. Anda sebarkan pada semua kenalan anda. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.
Sumber : http://facebook.com | Kaligrafi

Makna Cinta

Diposting oleh : Posted on Sabtu, 07 September 2013 - 8:51 PM with 1 comment


INILAH CINTA

Bagi Yang Merasa Punya CINTA , Baca lah dan Sempat Kan Tulis "SUBHANALLAH" Pada Komentar !!

Setia bukan karena Kita Sempurna Tapi setia karena Kita saling Menjaga..

Sehati bukan karena Memberi Tapi sehati karena saling Memahami..

Cinta bukan karena Terpesona Tapi cinta karena saling Terbuka..

Betah bukan karena Mewah Tapi betah karena saling Mengalah..

Langgeng bukan karena Terkekang Tapi langgeng karena saling Berpegang..

Bersama bukan karena Dunia Tapi bersama karena ALLAH..

Indah bukan karena selalu Mudah Tetapi indah karena dihadapi bersama setiap Kesusahan..

SubhanALLAH..





Sumber : http://facebook.com | Kaligrafi


Pinang Aku dalam Taman Firdaus

Diposting oleh : Posted on Kamis, 18 Juli 2013 - 7:42 PM with No comments

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 

Desa Kedung bermandikan air hujan. Udara dingin menyatu bersama harum tanah yang timbul akibat guyur hujan. Pohon-pohon rindang menari menyambut gembira air keberkahan yang turun dari langit. Sesekali terdengar nyanyian burung-burung yang berlindung dalam peluk dedaunan. Geliat alam begitu terasa hidup di desa kecil itu.

Di beranda rumah bilik bambu, seorang pemuda berdiri dan menyandarkan lengannya di tiang kayu penyangga rumah bilik bambu itu. Terlihat wajahnya memancarkan cahaya kesedihan. Hingga nyanyian alam pun tak mampu menghibur pemuda itu. Surat yang ia terima sebelum guyur hujan membasahi ranting-ranting kering telah merubah keteduhan wajahnya menjadi kemuraman.

Pagi itu matahari memancarkan sinar kehangatan karena rasa patuhnya kepada Sang Pencipta. Kehangatan matahari pagi mengiringi langkah kaki seorang gadis yang sedang berjalan di antara pemandangan sawah yang terhampar luas. Hembus semilir angin meniup wajah cantiknya, seakan ingin menyapa. Hamparan sawah melambai kepadanya, seakan hendak berkenalan dengan gadis bermata jelita itu. Terlihat beberapa petani sudah mulai bergelut dengan sawah mereka masing-masing. Keharmonisan hidup antar sesama makhluk masih terlihat jelas di Desa Kedung. Alam dan manusia.

Gadis bermata jelita itu baru pertama kali menginjakkan kakinya di Desa Kedung. Desa itu terasa asing baginya untuk sekedar mencari rumah Rashid. Dia pun mencoba mencari informasi di mana rumah Rashid kepada seorang petani yang sedang duduk di sebuah gubuk.

“Assalamu’alaikum, Pak.” Salam gadis itu kepada seorang petani yang duduk di sebuah gubuk.

“Wa’alaikumussalam” Jawab petani itu.

“Maaf Pak, boleh saya numpang bertanya?”

“Oh iya silahkan. Mau tanya apa, nak?” Jawab ramah petani itu.

“Hmm.. Bapak tahu rumah Rashid? Nama lengkapnya Muhammad Rashid.”

“Muhammad Rashid?” Petani itu mengerutkan dahi.

“Dia baru pindahan dari kota, pak. Kalau saya tidak salah dia pindah kesini sebulan yang lalu. Bapak tahu? Ujar gadis itu.

“Waduh, saya tidak tahu nak. Apalagi dia orang baru di sini.”

“Oh. Mungkin teman saya itu tahu” petani itu menunjuk ke arah temannya yang sedang menyiangi sawah.

“Din..Udin. Kemari!” Teriak petani itu memanggil temannya yang sedang menyiangi sawah.

Tak lama kemudian, teman petani itu sudah berdiri di hadapan gadis bermata jelita itu.

“Begini Din. Mbak ini mau tanya rumah Rashid, apakah kamu tahu?” Tanya petani itu kepada temannya.

“Iya, Pak. Saya mau tanya rumah Rashid. Dia baru pindahan dari kota.” Sambung gadis itu.

“Ohh.. Rashid yang baru pindahan dari kota itu ya. Iya saya tahu. Ayo, biar saya antar langsung kerumahnya saja mbak.” Jawab teman petani itu.

Gadis bermata jelita itu tampak begitu anggun dengan kerudung merah yang membalut kulit putihnya. Langkahnya begitu tegap ketika kedua kakinya mengayun membelah luasnya hamparan sawah. Tiba-tiba lagkah kakinya terhenti setelah sepasang mata jelitanya melihat sebuah rumah bilik bambu yang ditunjuk oleh seseorang yang mengantarkannya tadi.

“Nah. Itu rumahnya, mbak.” Ujar seorang yang mengantar gadis itu.

“Yang ada pohon jambunya itu, pak?”

“Iya benar. Di situ rumah Rashid, mbak. Maaf, saya cuma bisa mengantar sampai di sini.”

“Oh iya tak apa, Pak. Maaf sudah banyak merepotkan bapak.”

“Ah, tidak mbak. Kalau begitu, saya kembali ke sawah dulu ya mbak.”

“Iya. Terima kasih, pak.” Jawab Aisyah dengan senyum tulus.

Gadis itu masih berdiri terpaku dalam kebisuan ketika matanya mengarahkan pandangannya tepat di rumah bilik bambu itu. Pohon jambu yang berdiri kokoh di depan rumah bilik bambu turut membisu seakan telah mendengar bisik hati gadis berwajah bersih itu. Koloni semut merambat membangun istana di antara dahan-dahan pohon. Ikhlas penuh kecintaan. Tidak ada kebencian untuk berbagi nikmat yang telah Allah taburkan.

Sungguh, gadis itu tak kuasa untuk menahan pergerakan nurani yang berusaha menuntunnya hingga bertemu dengan pria yang pernah meneteskan embun-embun cinta dalam hatinya. Tapi, ini bukan perkara yang mudah untuk ikhlas mengikuti nuraninya. Karena bukan kabar gembira yang ingin ia sampaikan kepada pria itu.

Sejurus kemudian, gadis berparas cantik itu melangkahkan kakinya menuju rumah bilik bambu itu seraya membawa bunga yang ia petik dari taman-taman kerinduan.

“Assalamu’alaikum” Salam gadis itu.

“Wa’alaikumussalam. Siapa?” Suara seorang pria dari dalam rumah.

Gadis itu hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya untuk menjawab pertanyaan seorang pria yang ada dalam rumah itu. Hingga pria dalam rumah itu melihat sendiri siapa yang muncul di hadapannya. Tidak lama kemudian dibukakan pintu rumah itu. Terlihatlah wajah penuh keteduhan menyembul dari balik pintu.

“Aku Ras” Jawab Aisyah setelah pemuda itu membuka pintu.

“A..Aisyah!” pria itu terkejut. “Subhanallah, benar kamu Aisyah?” sambung pria itu.

“Kamu benar Ras. Aku Aisyah!” Jawab Aisyah sambil menundukkan wajah.

Rashid diam. Hatinya bergoncang hebat setelah mendengar suara yang telah lama hilang dari hidupnya. Kini, suara itu hadir kembali. Suara indah yang pernah ia dengar saat berada dalam taman Quran. Hati yang telah lama kerontang seakan kembali basah oleh guyuran air surga.

“Rashid!” Ucap Aisyah.

Rashid terkejut oleh suara Aisyah, setelah beberapa saat ia hanyut dalam lamunan. Sesegera mungkin ia bangkit dari lamunan.

“Oh iya, mari masuk dulu ke rumah. Agaknya engkau terlampau letih setelah berjalan cukup jauh” Ujar Rashid.

“Tidak Ras. Aku tak bisa berlama-lama di sini,” jawab Aisyah. “Aku datang ke sini hanya untuk memberitahumu kalau aku….”

“Kalau apa Aisyah?”

“Kalau aku telah dijodohkan oleh ayahku. Aku dijodohkan dengan seorang pemuda yang jauh rasa cintanya kepada Tuhanku.” Jawab Aisyah dengan suara bergetar.

Perkatakan Aisyah sontak membuat jantung Rashid seakan berhenti. Kedua telinganya mendengung keras. Ia tak bisa menyembunyikan hatinya yang hancur berkeping-keping. Kehadiran Aisyah hanya membawa kesejukan sesaat. Setelah itu ia membuat hati Rashid kembali kerontang. Bagaimana wanita yang selama ini ia cintai harus berlabuh pada dermaga cinta pemuda lain. Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, Rashid berkata.

“Aisyah, jika itu permintaan ayahmu maka terimalah. Percayalah, setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya.”

“Tidak!” Bantah Aisyah.

“Lalu apa yang engkau inginkan, Aisyah?”

“Rashid. Memang, ayahku selalu menginginkan jodoh untukku dari kalangan orang kaya. Tapi bagiku, apalah arti hidangan lezat yang bisa aku nikmati di meja makan sewaktu-waktu jika kelak aku menjadi orang yang paling lapar di negeri abadi. Dengan segala kerendahan hati yang aku miliki. Aku memohon kepadamu, tolong temui ayahku dan pinang aku, Rashid. Cobalah Rashid!”

Rashid hanya diam. Permintaan Aisyah membuatnya bimbang. Suasana kembali sunyi. Daun-daun kering yang ditiup angin menuju ke arah mereka.

“Jawab, Rashid!” Sambung Aisyah setelah melihat Rashid terdiam beberapa saat.

“Maafkan aku, Aisyah. Aku tak ingin dikatakan sebagai orang yang angkuh karena menolak permintaanmu. Tapi, engkau tahu sendiri jika aku hanyalah seorang yang miskin. Sedangkan ayahmu begitu menginginkan seorang pendamping bagimu dari kalangan terpandang.”

“Jadi engkau menolak permintaanku, Rashid?”

Rashid hanya mengangguk. Wajahnya tertunduk, matanya berkaca-kaca, dan bibirnya seakan terkunci rapat.

“Baiklah kalau engkau menolak permintaanku. Tapi….” Ujar Aisyah sambil membuka tas hitam yang ada di lengannya.

“Tapi, engkau harus menerima ini Ras” sambung Aisyah sambil menunjukkan kertas putih tebal berbentuk lipatan persegi yang ia ambil dari tasnya.

“Apa itu, Aisyah?”

“Ambil saja, Ras!” Jawab Aisyah seraya mengulurkan tanggannya memberikan kertas berwarna putih itu.

“Maaf, tidak usah, Aisyah!” Jawab Rashid lirih.

“Terimalah! Kalau engkau tidak terima, aku tak akan beranjak pergi dari rumahmu ini!”

Terpaksa Rashid menerima kertas putih yang diberikan Aisyah. Kemudian, Aisyah beranjak pergi dari hadapan Rashid. Dengan wajah berkabut ia meninggalkan Rashid seraya membawa harapan besar agar Rashid berkenan menemuinya kelak. Entah bagaimana caranya, dan di mana tempatnya. Aisyah meningalkan Rashid dengan air mata yang menetes membasahi pipinya. Angin berhembus lebih syahdu. Serasa ada nyanyian iba bersamanya.

Sementara itu di dalam rumah bilik Rashid tampak menangis tersedu-sedu. Kehadiran Aisyah pagi itu membuatnya meratap karena hati yang dilanda nestapa. Keteduhan Aisyah berisyarat akan kelembutan hatinya. Betapa Rashid mencintai Aisyah dengan segala kekurangan yang ia miliki. Haruskah cinta yang suci dan berasal dari Yang Maha Suci ternodai oleh sifat materialistis manusia. Haramkah jika cinta tersentuh oleh tangan kemelaratan. Hati Rashid berteriak keras.

Kemudian, tangis Rashid semakin menjadi-jadi setalah membuka kertas putih yang Aisyah berikan padanya. Kertas itu berisi sebuah pengharapan Aisyah. Dengan mata berlinang Rashid membacanya perlahan penuh kekhusyu’an.

Kepada Muhammad Rashid

Assalamu’alaikum

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: ‘inilah yang diberikan kepada kami dahulu’. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk meraka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dalam mereka kekal di dalamnya” (Al-baqarah: 25)

Sengaja aku memulai menulis surat ini atas nama cinta kepada Ilahi Rabbi. Karena, Dialah yang Menciptakan Bidadari-bidadari bermata yakut dan marjan. Dialah yang mengalirkan sungai-sungai kejernihan dalam surga. Dialah penguasa setiap dinding-dinding hati seorang hamba. Dia-lah yang Maha Memelihara cinta suci yang tertuang indah dalam ayat-ayat-Nya. Dialah yang mengatur kapan dan di mana air mata seoarang hamba berjatuhan membasahi bumi-Nya.

Atas nama cinta suci berbalut sutra kasih sayang-Nya. Aku ingin sampaikan kegelisahan hati yang selama ini aku simpan sendiri hingga sampai pada saatnya engkau yang membukanya, Rashid. Dan sekarang engkau membukanya.

Kebodohan kala itu masih aku ingat, ketika jiwaku terjun melayang ke dalam jurang-jurang kenistaan. Hidupku hancur. Bahkan aku tak mengenal siapa sebenarnya diriku apalagi Tuhanku. Saat aku berada dalam kemiskinan akhirat, Allah Yang Maha Kaya mengulurkan tali hidayah-Nya melalui kehadiranmu, Rashid.

Dengan penuh kesabaran, engkau membimbingku yang bodoh ini. Dengan penuh keikhlasan engkau mengajariku untuk mengenal Tuhanku. Engkau tak pernah merasa jijik padaku walau noda-noda kotor melekat padaku. Engkau manusia berhati malaikat, Rashid.

Jika engkau tahu, saat inilah air mataku menetes seakan enggan berhenti membasahi pipiku. Ketika aku hanyut akan keberadaanmu, tiba-tiba engkau seakan hilang ditelan masa. Sungguh, aku bisa merasakan pergerakan hatimu, Rashid. Engkau mencintaiku, bukan?. Engkau meninggalkanku karena engkau selalu merasa tak pantas untukku lagi-lagi karena harta, bukan?

Jika memang itu alasanmu yang kuat. Maka, sengaja aku mengumpulkan dikit demi sedikit tabunganku agar engkau dapat memakainya, Rashid. Jangan pernah tolak permintaanku ini. Karena aku benar-benar berharap engkaulah yang akan menjadi pendamping hidupku hingga wangi surga kita cium bersama.

Aku akan menunda perjodohanku dengan pemuda itu sampai engkau datang meminangku, Rashid. Aku setia menantimu.

Wassallam

Arfina Aisyah H

Malam kembali datang membentangkan jubah hitamnya. Terlihat cahaya gemintang mulai meredup karena terhalang awan-awan gelap. Angin malam meniup halus seorang hamba yang sedang menyepi, bercengkerama dengan Rabbnya. Air matanya menetes di atas sajadah. Pundaknya berguncang menahan kesedihan. Dalam doa berharap kemudahan untuk menyusuri lorong-lorong kesukaran. Di tempat yang berbeda, Aisyah memohon kemudahan kepada Ilahi dengan melantunkan surah Ar Rahman, semoga kasih sayang-Nya mendekap keinginannya. Suara indahnya memecah keheningan malam. Dua anak manusia mengikat cinta dalam keheningan malam.

Sebulan kemudian, cahaya dhuha merebahkan kehangatannya melalui fajar yang menyingsing di ufuk timur. Rashid menengadahkan wajahnya ke langit mengikuti langkah cahaya itu sebelum lenyap oleh kuasa rembulan. Tekadnya sudah bulat untuk beranjak pergi dari Desa Kedung demi cinta yang bersarang pada sosok Aisyah. Rashid pun harus meninggalkan Desa Kedung, Aisyah, dan cintanya. Rashid mencoba mencari peruntungan di pulau seberang dengan bekal yang ia peroleh dari Aisyah. Rashid melangkah pergi, berlayar melintasi luasnya lautan yang biru menuju pulau harapan.

Angin dari utara meniupkan kabar hingga sampai ke telinga Aisyah tentang kepergian Rashid ke pulau seberang. Kabar itu tak ubahnya seperti petir yang berdendang tanpa mendung. Menyambar tanpa memerintah dan diperintah. Kabar itu membuat Aisyah semakin terlelap dengan penderitaannya. Air matanya mengucur deras dari keteduhan sepasang jelita matanya. Cobaan yang menimpanya semakin membuat ia terperangkap oleh jerat cinta Rabbnya. Ia gantungkan segala harapannya kepada Sang Maha Pemilik langit dan bumi ini. Dalam diam ia memohon, dalam bertutur ia meminta. Siang yang terik menemani rasa dahaganya karena puasa. Malam yang dingin memelukya dalam kesepian untuk bermunajad.

“Rashid akan kembali. Rashid akan datang untukku. Walau aku tak tahu kapan dan di mana” Bisik hati Aisyah.

Setahun telah berlalu. Musim kemarau merelakan penghujan membuat jejak-jejak baru di atas bumi. Kesendirian semakin menyadarkan pentingnya kebersamaan. Tentunya kebersamaan yang dilandasi oleh rasa cinta. Bukan kebersamaan yang hampa; tanpa embun cinta. Aisyah masih dalam kesendirian, sementara ayahnya sudah memaksanya untuk secepatnya menikah dengan seoarang pemuda yang telah ia pilihkan.

“Aisyah, sebentar lagi Amir datang bersama keluarganya. Ayah harap engkau mau menemui mereka” Ujar Ayah Aisyah.

“Untuk apa mereka kesini, yah?”

“Kamu ini bagaimana. Ya tentu saja untuk membicarakan pernikahan kalian!”

“Ayah, sudah berapa kali Aisyah bilang, Aisyah belum ingin menikah!”

“Lihat itu bu anakmu. Mau sampai kapan dia seperti itu?” Ujar ayah Aisyah kepada istrinya.

“Sudahlah, yah! Aisyah, sayang. Sini nak!” Panggil Ibu Aisyah.

Aisyah mendekat ke ibunya kemudian memeluknya.

“Ibu, kenapa Aisyah selalu dipaksa menikah dengan Amir?” bisik Aisyah.

“Aisyah, ibu tahu engkau tidak menyukai Amir. Tapi, ini semua juga untuk kebaikanmu, sayang. Ingat usiamu, nak” jawab ibu Aisyah lembut.

“Iya, tapi kenapa harus selalu dipaksa dengan dia. Apakah hanya karena dia orang kaya?, Ibu, Aisyah tidak mengharapkan orang yang kaya di dunia tapi sangat miskin dihadapan Allah.”

“Bukankah Amir laki-laki yang baik, sayang?”

“Tidak! Aisyah tahu benar siapa dia, bu! Sewaktu Aisyah belum seperti ini. Aisyah pernah melihat dia bersama teman perempuan Aisyah, bu.”

“Lalu, apa yang engkau inginkan, nak?”

“Aisyah tetap menolak!” Jawab Aisyah mantap.

Di tempat yang berbeda dan jauh dari hiruk pikuk rencana pernikahan, seorang pemuda berwajah rupawan dan bersih sedang mempersiapkan keberangkatannya untuk kembali pulang ke desa yang selama ini ia tinggalkan. Sesekali ia pandangi secarik kertas yang selalu ia simpan di dalam kantong berwarna coklat tua. Jika kerinduan akan gadis itu kembali datang, maka kertas itulah yang mampu mengobati kerinduannya kepada gadis itu.

“Hai..Apa itu, Ras?” Suara seorang pria mengejutkan Rashid.

Sesegera mungkin Rashid menyembunyikan kertas itu dari pandangan seseorang yang mengejutkannnya.

“Ah, tak ada, Bur”

“Halah, pasti itu sebuah surat, bukan? Sepertinya begitu” Ujar Burhan sambil tertawa.

Rashid hanya tersenyum tipis.

“Eh, kapan rencanamu pulang ke kampung, Ras?” Tanya burhan mengalihkan pembicaraan.

“Insya Allah dua minggu lagi.”

“Pasti banyak yang merindukanmu di kampung ya?”

“Tidak bur. Aku sudah tak mempunyai siapa-siapa di dunia ini, selain aku hanya berharap belas kasih dari Allah.”

“Kalau begitu mengapa engkau harus bersusah payah pulang ke kampung, sementara engkau tak memiliki sanak saudara di sana. Lebih baik engkau di sini saja, Ras. Barangkali engkau bisa lebih sukses dari sekarang ini.”

“Tidak, Bur. Seseorang sudah menungguku di sana. Aku ingin kembali kesana membawa kabar gembira untuknya.” Ujar Rashid sambil memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar berwarna hitam.

“Siapa, Ras? Seorang perempuan?”

“Tolong lempar kesini baju warna biru di sebelahmu itu, Bur!” Perintah Rashid kepada Burhan “Iya, dia seorang perempuan. Dia yang menungguku, Bur.” Sambungnya seraya melipat-lipat baju yang hendak dimasukkan dalam tas.

“Jadi, engkau pulang ke kampung untuk menikah dengannya?”

“Memang, sudah hampir setahun kami tidak bertukar kabar. Tapi, kuharap tetap bisa menikahinya.”

Di balik jendela kamar, Aisyah memandangi hujan yang saling berkejaran hingga akhirnya saling berpeluk dengan bumi. Seakan deras hujan itu melukisakan raut wajah Rashid. Seorang yang telah lama menghilang tanpa ada secuil kabar yang ia kirim untuknya, sehingga membuatnya larut dalam kerinduan yang teramat sangat pada sosok Rashid. Kerinduan pada sosok Rashid ia tumpahkan di atas kertas putih yang tergores oleh tinta hitam. Aisyah menulis surat untuk Rashid. Sebuah surat yang rencananya akan ia titipkan kepada Pak Udin, seorang petani desa yang pernah mengantarkannya bertemu dengan Rashid.

Sejak terjadi pertemuan dua keluarga beberapa hari yang lalu, membuat hidup Aisyah berubah. Dia lebih sering mengurung diri di dalam kamar, bahkan enggan untuk bercakap-cakap dengan orang lain. Kesan kesegaran yang biasa ia tampakkan kini mulai layu. Bahkan senyumnya yang sangat khas hilang sama sekali. Ia jarang makan hingga membuat badannya mulai terlihat kurus. Pada akhirnya Aisyah pun tergeletak sakit.

“Aisyah..Aisyah.!” Seru ibunya dari balik pintu kamar.

“Ya” Jawab Aisyah singkat.

“Makan dulu, sayang! Sudah beberapa hari kamu belum makan, nak. Ini sekalian ibu bawakan obat untukmu.” Rayu Ibunya.

“Tidak. Aisyah tidak lapar bu.”

“Nak, buka pintunya ibu ingin bicara sama kamu!”

“Aisyah masih ingin sendiri, bu. Ibu letakkan saja makanan sama obatnya di depan pintu.”

Dalam kesendirian, Aisyah kembali mengurai air matanya yang terus mengucur deras. Hanya kepada Allah Yang Maha Lembut Aisyah mengadukan segala persoalan yang melandanya. “Ya Allah, kuserahkan segala urusanku yang aku tak tahu dimana ujung penyelesainnya hanya kepada-Mu. Wahai Rabb pemilik Arsy yang mana para Malaikat senantiasa berzikir kepada-Mu. Tenggelamkanlah segala kesusahan yang menimpa diriku dan jika Engkau berkehendak timbulkan segala kemudahan untukku, Ya Rabb. Wahai Rabb Yang Maha Besar rasa kasih dan cinta-Nya kepada semua makhluk, serta yang menumbuhkan rasa cinta ke dalam diri setiap makhluk. Sungguh, aku rela jika rasa cinta yang ada dalam diriku engkau cabut bilamana rasa cintaku terhadap makhluk-Mu lebih besar daripada rasa cintaku kepada-Mu.” Tersungkurlah wajah Aisyah di atas sajadah.

Desa Kedung tak banyak berubah setelah beberapa lama ditinggalkan salah seorang penduduknya. Hanya musim yang telah berubah. Manakala dulu musim kemarau, sekarang telah berubah musim penghujan. Seorang pemuda yang telah lama menghilang dari desa itu, kini kembali pulang. Pemuda itu berjalan menyusuri hamparan sawah hingga para petani yang sedang sibuk mengurusi sawahnya mengalihkan perhatiannya kepada pemuda itu. Tak lama kemudian, salah seorang petani berteriak sambil berlari menuju ke arah pemuda itu.

“Rashid..Rashid..!”

Kemudian Rashid mengarahkan pandangannya ke sumber suara yang berteriak memanggil namanya dari arah belakang.

“Assalamu’alaikum, Rashid. Akhirnya engkau pulang juga.”

“Wa’alaikumussalam, Pak Udin. Ada apa Pak?”

“Begini, Ras. Seminggu yang lalu ada seseorang laki-laki yang mencarimu seraya menitipkan ini untuk disampaikan padamu.” Ucap Pak Udin sambil menunjukkan sebuah surat.

“Seorang laki-laki? Siapa ya, Pak? Lalu, apa ada pesan dari beliau?” Tanya Rashid sambil mengambil surat yang disodorkan oleh Pak Udin.

“Aku tak tahu, Ras. Dia tidak berpesan apa-apa kecuali hanya sedikit bercerita kepadaku jika anaknya telah tiada dan surat yang kau pegang itu ia temukan di dalam kamar anaknya. Begitu saja, Ras.”

“Baiklah kalau begitu. Saya segera membacanya di rumah, Pak.”

Gumpalan awan gelap telah terlihat di atas desa itu, tak lama lagi hujan akan turun. Rashid bergegas untuk segera pulang sebelum hujan mengguyurnya. Sesampai di rumah, Rashid segera membuka surat yang ia peroleh dari Pak Udin. Dan hujan pun turun dengan lebatnya.

Kepada Muhammad Rashid

Assalamu’alaikum

“Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (Qs:Al-Insaan:20)

Rashid, Aku menulis surat ini ketika hujan mengurai keindahannya. Ketika aku memandanginya terlukis raut wajahmu di antara hujan yang saling berkejaran. Engkau pergi tak menitipkan kabar sedikitpun padaku, Rashid. Selalu saja engkau ingin menjauh dariku. Tapi, aku selalu mencoba menjadi wanita yang ikhlas untuk kehilanganmu.

Rashid, pernah suatu malam aku bermimpi duduk di bawah pohon yang begitu rindang, dan di sebelahnya mengalir sungai yang sangat jernih. Kemudian, aku alihkan pandanganku ke arah padang rumput hijau yang begitu luas dan indah. Semilir angin membuatku terasa sejuk. Tak lama kemudian, muncul seorang laki-laki berwajah mirip denganmu, Rashid. Laki-laki itu datang bersama dua wanita yang sangat cantik, kecantikannya tak pernahku lihat sebelumnya. Kemudian laki-laki itu duduk di sebelahku dan berkata jika ia hendak menikahiku. Oh..Begitu indah yang aku rasakan dan begitu syahdu janji yang ia ucapkan padaku.

Aku mengira laki-laki itu adalah dirimu, Rashid. Tapi, rasanya tidak mungkin engkau meminangku di dunia ini, karena aku merasa umurku tak akan lama lagi. Mungkin mimipi itu adalah isyarat jika engkau akan meminangku di Taman Firdaus.

Aku masih menantimu, Muhammad Rashid.

Wassalam

Arfina Aisyah H

Rashid masih memandangi surat terakhir yang ia terima sebelum hujan turun membasahi Bumi Allah. Kini, di beranda rumah bilik bambu seakan Rashid yang melihat raut wajah Aisyah di antara hujan yang saling berkejaran. Wajah Aisyah tampak bercahaya dan membawa senyum kedamaian yang ia kirim dari Taman Firdaus. Air mata Rashid menetes. Ia lipat surat terakhir dari Aisyah, kemudian ia pandangi langit dan berkata. “Selamat tinggal Aisyah. Aku akan selalu merindukanmu yang kini telah menjadi bidadari surga dalam Taman Firdaus.”
Sumber: dakwatuna com

Akibat Mengambil Uang Ibu yang Mengakibatkan Ibunya dicaci Maki dan dihina

Diposting oleh : Posted on Rabu, 17 Juli 2013 - 2:25 AM with No comments

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 

 https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/1003708_468321123264093_310458106_n.jpg
Ada satu kisah yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik Leadership yang bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasi sekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliau menceritakan satu kisah dengan sangat APIK dan membuat air mata pendengar berurai. Berikut ini adalah kisahnya:

Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur. Saya sudah berusaha membantu agar istri saya bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap, masih susah tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat. Akhirnya saya membawa istri saya ke RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3 hari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya. Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor. Selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan selalu kehausan sehingga setiap malam minum 3 galon air Aqua. Setelah dirawat 3 bulan di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya.
Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Mereka di Jakarta dan langsung di rawat di ruang ICU. Satu malam berada di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta. Badan istri saya –maaf- tidak memakai sehelai pakaian pun. Dengan ditutupi kain, badan istri saya penuh dengan kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu penyakit istri saya belum bisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.

Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui saya dan bertanya, “Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti obat istri bapak.”

“Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter minta izin ?”

“Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya disuntikkan ke istri bapak.”

“Berapa harganya dok?”

“Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak.”

“Satu hari berapa kali suntik dok?”

“Sehari 3 kali suntik.”

“Berarti sehari 36 juta dok?”

“Iya pak Jamil.”

“Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong temukan penyakit istri saya dok.”

“Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri bapak. Kami sudah mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.”

“Tolong dok…., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok dicari”

“Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami akan mengganti obatnya.” Kemudian dokter memeriksa lagi.

“Iya dok.”

Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua raka’at. Selesai shalat dhuha, saya berdoa dengan menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasululloh,

“Ya Allah, ya Tuhanku….., gerangan maksiat apa yang aku lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang tak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya Allah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit tak kunjung sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah. Bagimu amat mudah menyembuhkan penyakit istriku semudah Engkau mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah.”

Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya teringat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu sebanyak Rp150,-.

Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu itu SPP bulanannya adalah Rp 25,-. Setiap pagi wali kelas memanggil dan menanyakan saya, “JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ?” Malu saya. Dan ketika waktu istrirahat saya pulang dari sekolah, saya menemukan ada uang Rp150,- di bawah bantal ibu saya. Saya mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan Rp75,- saya gunakan untuk jajan.

Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya mengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi mengingatnya ??. Maka saya berkesimpulan mungkin ini petunjuk dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah itu saya menelpon ibu saya,

“Assalamu’alaikum Ma…”

“Wa’alaikumus salam Mil….” Jawab ibu saya.

“Bagaimana kabarnya Ma ?”

“Ibu baik-baik saja Mil.”

“Trus, bagaimana kabarnya anak-anak Ma ?”

“Mil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana kabar istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak ?” –dengan suara terbata-bata dan menahan sesenggukan isak tangisnya-.

“Belum sembuh Ma.”

“Yang
sabar ya Mil.”

Setelah lama berbincang sana-sini –dengan menyeka butiran air mata yang keluar-, saya bertanya, “Ma…, Mama masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ?”

“Yang mana Mil ?”

“Kejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan di bawah bantal ?”

Kemudian di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding setiap kali mengingatnya)
“Mil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan melupakannya.” (suara mama semakin pilu dan menyayat hati),

“Gara-gara uang itu hilang, mama dicaci-maki di depan banyak orang. Gara-gara uang itu hilang mama dihina dan direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu itu mama punya hutang sama orang kaya di kampung kita Mil. Uang itu sudah siap dan mama simpan di bawah bantal namun ketika mama pulang, uang itu sudah tidak ada. Mama memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan memohon maaf karena uang yang sudah mama siapkan hilang. Mendengar alasan mama, orang itu merendahkan mama Mil. Orang itu mencaci-maki mama Mil. Orang itu menghina mama Mil, padahal di situ banyak orang. …rasanya Mil. Mamamu direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi mama dihinakan di depan banyak orang. SAKIT…. SAKIT… SAKIT rasanya.”

Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar penderitaan dan sakit hati yang dialami mama pada waktu itu, saya bertanya, “Mama tahu siapa yang mengambil uang itu ?”

“Tidak tahu Mil…Mama tidak tahu.”

Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan suara serak,

“Ma, yang mengambil uang itu saya Ma….., maka melalui telphon ini saya memohon keikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil Ma…., Jamil berjanji nanti kalau bertemu sama Mama, Jamil akan sungkem sama mama. Maafkan saya Ma, maafkan saya….”

Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana,

“Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim…..Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Maafkanlah dia ya Allah, ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia ya Allah.”

“Ma, benar mama sudah memaafkan saya ?”

“Mil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama mama memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau yang mengambil uang itu adalah kamu Mil.”

“Ma, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?”

“Mil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah saya maafkan, termasuk mengambil uang itu.”

“Ma, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat sembuh.”

“Ya Allah, ya Tuhanku….pada hari ini aku telah memaafkan kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya yang lain. Ya Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku ya Allah.”

Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terima kasih kepada mama. Dan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan pada pukul 11.45 wib seorang dokter mendatangi saya sembari berkata,
“Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan.”

“Apa dok?”

“Infeksi prankreas.”

Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata kebahagiaan, “Terima kasih dokter, terima kasih dokter. Terima kasih, terima kasih dok.”

Selesai memeluk, dokter itu berkata, “Pak Jamil, kalau boleh jujur, sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan sama dengan sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas. Dan kami meminta izin kepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu mengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi agar lebih mudah.”

Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat, saya kembali ke Bogor untuk sungkem kepada mama bersimpuh meminta maaf kepadanya, “Terima kasih Ma…., terima kasih Ma.”

Namun…., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah namun justru mama yang meminta maaf. “Bukan kamu yang harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya minta maaf.”

Sahabat Hikmah…
Maha benar sabda Rasulullaah shalallaahu ’alaihi wa sallam :
“Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)

“Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka:
orang yang berpuasa sampai dia berbuka,
seorang penguasa yang adil,
dan doa orang yang teraniaya.
Doa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, ‘Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.” (HR. Attirmidzi)

Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa:

Bila kita seorang anak:
* Janganlah sekali-kali membuat marah orang tua, karena murka mereka akan membuat murka Allah subhanau wa ta’ala. Dan bila kita ingin selalu diridloi-Nya maka buatlah selalu orang tua kita ridlo kepada kita.
* Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada orang lain, apalagi kepada kedua orang tua, karena doa orang teraniaya itu terkabul.

Bila kita sebagai orang tua:
* Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena kemarahan kita dan ucapan kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan kadang penyesalan adalah ujungnya.
* Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada Anak, berdoalah untuk kebaikan anak-anak kita, maafkanlah mereka.

Semoga bermanfaat dan bisa mengambil HIKMAH..

Wassalam

Diambil dari Mutiara Hikmah

Sekarang anda Mempunyai dua pilihan

1. Biarkan saja, dan abaikan saja status ini supaya orang lain tidak ikut membaca.
2. Membagikan status ini agar orang lain ikut membaca dan terinpirasi dengan Cara, klik 'Bagikan,

Anak Durhaka Masuk Surga

Diposting oleh : Posted on Minggu, 14 Juli 2013 - 3:33 AM with No comments

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Anak yang tidak mendengarkan kata-kata oang tuanya, tapi kok bisa masuk Surga? Kira-kira kebayang gak? Hmmm.. Ceritanya begini, suatu hari pada zaman Rasulullah SAW. Ada seorang keluarga, saat itu si suami sedang pergi keluar untuk berdagang, si suami berkata kepada istrinya untuk tidak keluar rumah sebelum suaminya kembali pulang.

Pesan ini benar-benar disimpannya baik-baik oleh istrinya. Ia pun tidak keluar rumah sesampai suaminya kembali pulang. Namun suatu ketika, ia didatangi tamu dari salah seorang kerabatnya. Mengabari bahwa Ibunya sedang sakit keras, ia diminta untuk datang kembali kepada Ibunya.

Namun si istri menjawab, "Aku menjaga amanah dari suamiku, untuk tidak bisa keluar rumah sebelum ia kembali dari rumah ini",

Jawab si istri kepada sanak kerabatnya, "Sampaikan salam dan maaf ku kepada ibuku" sambungnya.

kerabatnya pun kembali ke kampung halamannya. Menyampaikan pesan dari anaknya itu kepada Ibunya yang sakit keras. Namun di tempat lain, si istri ini-sebut saja Fulanah. Sebenarnya ingin sekali menjenguk Ibunya yang sedang sakit keras.

Beberapa hari kemudian, sanak keluarganya yang lain kembali datang kepada Fulanah untk menyampaikan berita yang sama. Ibunya sakit keras,ia diminta untuk pulang saja kerumah. Lagi-lagi Fulanah menolaknya, ia tidak bisa menjenguk Ibunya.

Akhirnya, hingga Ibunya meninggal dunia. Fulanah didatangi kembali oleh sanak keluarganya.

"Ibumu telah meninggal dunia, maukah kamu datang untuk menjenguk jasad Ibumu untuk yang terakhir kalinya?".

Fulanah hanya menjawab, "Innalillaahi wa ina ilaih Raji'un. Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak bisa pergi dari sini!"

Sanak keluarganya sudah tida bisa berfikir lagi saat itu. Hingga ia berkata, "celakalah kamu Fulanah!!! Saat Ibumu sakit, engkau tidak datang. Saat Ibumu sekarat, kamupun juga tidak datang. Dan disaat seperti ini, Ibumu sudah meninggal dunia, tapi kamu tidak datang???!!"

Kerabatnya benar-benar marah pada saat itu. "Maafkan saya kerabatku, sesungguhnya aku ingin tiba ke pemakaman Ibu. Tapi aku tidak bisa pergi dari rumah ini!" jawab Fulanah.

Kerabatnya sudah tidak habis fikir dengan Fulanah, di jalan, hatinya benar-benar emosi nggak karuan akhirnya, si kerabat pun meninggalkan rumah Fulanah dengan kecewa.

Hingga pada suatu hal, sang kerabat yang masih tidak suka dengan sikap keluarganya ini akhirnya berniat menanyai Rasulullah SAW, "wahai Rasulullah SAW, kerabatku telah seperti ini dan seperti itu" kata kerabat ini menceritakan kejadian si Fulanah.

Namun Rasulullah SAW hanya menjawab, "Beruntung sekali sang Ibu, ia akan masuk surga bersama si Fulanah"

Si kerabat ini heran, kenapa bisa si Fulanah masuk surga? Bukannya ia sudah berlaku kurang ajar kepada Ibunya. "Kenapa ke duanya masuk surga, Ya Rasulullah?"

"Si Ibu telah berhasil mendidik anaknya dengan baik. Sedang si Fulanah berhasil menjaga amanah dari suaminya dan Ibunya", jawab Rasulullah SAW dengan tegas.
"Begitulah kisah cerita pada zaman Rasulullah SAW Maaf kalo tulisan ini dibuat begini, entah udah pernah denger ato baca di mana, ini cuma buat ngingetin dan juga bahan pembelajaran bersama aja".

Kisah Nyata Kesaksian Orang Mati Suri

Diposting oleh : Posted on Minggu, 23 Juni 2013 - 2:57 AM with No comments

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


" Kisah nyata ini sungguh dapat di jadikan pelajaran bagi Kita yang masih hidup "

" Cerita ini sungguh mmbuat kita MERINDING" kita akan menangis setelah membaca kisah ini, kita akan di bawa merenung

"Kesaksian Orang Mati Suri"

Begitulah judul kisah nyata kali ini, dia adalah : Ella Az-Zahra Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri. Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) . Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit di jakarta. Setelah itu, Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.. ”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘ jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke jakarta sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, ” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.

”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu. Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat mencabut (nyawa) dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru. Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalammualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.. “ Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau. Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut. Kemudian Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.” Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”. Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab.”Akula h (amal) kamu.” Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi yang sangat berat, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang. Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain. Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia. Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir. Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red). Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya.”Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batang an emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.” Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon.”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.” Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. ”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, ” ujarnya.

Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100: Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).”(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100). Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” Setelah berpidato, aslina mendapatkan tepukan meriah dari penonton tapi bila di facebook, ia dapatkanjempol sekarang. Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan tersebut.

untuk member : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini. Dan Ternyata hidup ini hanya sementara, serta hanya amal juga hati yang bersihlah yang mampu menuntun kita menuju jalan kehadapan Illahi...

jika kisah nyata ini dapat membuat kita lebih sadar dan merenung jangan lupa bantu SHARE / bagikan ya ke dinding kita agar teman-teman dan saudara kita tahu...

Semoga Bermamfaat..

Bismillah.. Gabung Yuk di Fp ini : Kaligrafi untuk membaca : "TENTANG KUCING, TERNYATA SELAMA INI "

Insya Allah Bermanfaat


Sumber : Mustaghfiri Asror 

Tutorial Other

 

© Copyright 2-Bersaudara 2015 | Design by Herdiansyah Hamzah | Editing by 2-Bersaudara.